DILARANG KADES, DUA WARGA MUBA TERANCAM TIDAK BISA BEKERJA

clicksumsel.com, MUBA – Abdul Latief House Keeping di stasiun Central Ramba dan Irawan  House  House Keeping di stasiun Tanjung Laban yang berada di kawasan Desa Babat Ramba Jaya, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) terancam tidak bisa bekerja ditempat mereka, hal ini dikarenakan mereka dilarang oleh Kades (Kepala Desa) untuk melakukan kewajibannya bekerja guna mencari nafkah buat keluarga.

“Kalian stop dulu bekerja, karena bos kalian belum ada kejelasan dengan desa, namun kejelasan tentang apa, tidak disebutkan oleh Kades.” Ungkap Irawan saat dihubungi Jurnalis clicksumsel.com (Jum’at, 21/3/2020).

Lanjut Irawan, ia bingung, karena sampai sekarang ia tidak mengundurkan diri sebagai pekerja, namun untuk bekerja ia dilarang oleh kades tersebut.

“Baru kerja dalam masa training, bulan kedua baru jalan satu Minggu sudah disuruh di stop Kades.” Jelasnya.

Ia menjelaskan, dirinya sudah mencoba untuk masuk kerja kembali, namun sepulang kerja, kades kembali memberikan instruksi melalui Abdul Latief untuk berhenti bekerja.

“Saya coba untuk kembali bekerja, pulang kerja, Abdul Latief menelfon saya menyampaikan pesan dari kades, kalian sudah disuruh stop kerja kok masih kerja?,” Ungkap Irawan.

Lanjut Irawan, pihak Kades tidak pernah menunjukkan aturan yang mengharuskan ia berhenti bekerja serta tidak memberikan kompensasi selama ia tidak masuk kerja selama ini. Ia terpaksa kerja serabutan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

“Kami serba salah, tidak kerja tidak bisa mencari nafkah, kalau kerja dimarah Kades.” Pungkasnya.

Terpisah, Abdul Latief menjelaskan, sepengetahuannya setiap PT. yang masuk didaerah tersebut harus melapor kepada Kades.

“Karena disitukan kita ngikutin peraturan, setiap PT. Yang masuk harus izin atau lapor kepada Kades.” Jelasnya.

Ia menjelaskan kades dan dirinya memiliki hubungan keluarga, ia masuk kerja juga atas rekomendasi dari kades.

“Adik ipar saya masih saudara Kades, saya pernah memohon kebijakan kades tentang masalah ini, namun, kades menjelaskan bahwa pihaknya bukan meminta ia berhenti kerja, kades ingin Pemilik Perusahaan atau perwakilannya bertemu langsung dengan dirinya.” Pungkasnya.

Arwani selaku perwakilan Perusahaan menjelaskan, Sebelum kontrak dimulai, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kades, kades mengajukan syarat yaitu harus melibatkan putra daerah dan setelah kontrak berjalan ada kontribusi terhadap Desa.

“Sebelum kontrak dimulai kita sudah menghubungi kades, dan melaksanakan apa yang disarankan oleh kades tersebut.” jelasnya.

Lanjutnya, setelah melakukan perekrutan yang melibatkan warga setempat dan melengkapi administrasi bagi calon pekerja untuk menjadi pekerja di perusahaannya, sesuai rekomendasi dari kades.

“Seiring jalan, kami merekrut putra daerah setempat untuk menjadi calon pekerja, setelah administrasi calon pekerja selesai, dan telah menandatangani kontrak kerja, mereka mulai melakukan pekerjaannya, setelah berjalan lebih kurang tiga Minggu, saat Minggu pertama di bulan Maret mereka di stop oleh kades untuk bekerja.” Jelasnya.

Setelah menerima informasi terkait kades yang memberi instruksi untuk berhenti melakukan aktifitas dari para pekerja ia menginstruksikan untuk tetap melakukan kegiatan seperti biasa, karena wewenang untuk memberhentikan para pekerja berada di wilayah perusahaan.

“Pihak kami sudah menerima laporan dari pekerja, dan memerintahkan untuk tetap bekerja seperti biasa, namun, Kades kembali melakukan larangan kepada mereka untuk beraktifitas kerja pada tanggal 9 Maret sampai dengan sekarang.” Bebernya.

“Kami sudah berusaha melakukan mediasi dengan pihak Kades, namun Kades tidak dapat ditemui baik secara langsung atau dihubungi melalui telepon.” Jelasnya.

Sampai sekarang pihaknya terus berupaya mencari jalan keluar terbaik, baik itu ke unsur pimpinan daerah setempat maupun tokoh pemuda da masyarakat agar permasalahan ini tidak sampai mengganggu warga  yang mencari nafkah di perusahaan tempat mereka bekerja.

“kami belum mengambil keputusan bagi para pekerja, namun jika diharuskan Pihak User minta pengganti  pekerja, kemungkinan itu bisa jadi ada, pokoknya kami terus berusaha menemui Kades untuk mengetahui secara jelas apa yang menjadi alasan beliau memberi instruksi kepada para pekerja kami untuk stop beraktifitas, tidak lupa juga meminta saran pendapat dari tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan unsur pimpinan daerah tentunya.” Pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, pihak redaksi terus berupaya menghubungi kades melalui sambungan telepon dan SMS (pesan singkat) namun, tidak ada respon dari Kades tersebut.

laporan : CR 1